Tuesday, March 24, 2020

Sakit Tak Berdarah

Ini kelanjutan postingan sebelumnya. Maaf kalau spam. Hanya ingin cerita saja...
Hari minggu kemarin, ditengah wabah Corona, BKN tetap mengumumkan hasil tes SKD CPNS. Aku dapat edaran pengumuman pagi, jam setengah enam. Dasar anak gadis, jam segitu baru bangun. Aku sempatkan sholat subuh dulu.  Setelah sholat aku pasrah saja pada Allah, kalau memang ini rejekiku, maka aku pun akan dinyatakan lolos. Tapi kalau belum rejeki, ya sudah ikhlas saja. Mau bagaimana lagi? Namanya belum rejeki.
Sedikit flashback, jadi hasil tes skd.ku lumayan bagus. Aku mendapat nilai 384 dengan rincian tes wawasan kebangsaan 105 poin, tes intelegensi umum 135, dan tes kemampuan pribadi 144 poin atau dengan total poin 384. Nilai yang cukup tinggi. Aku sendiri tidak menyangka bisa mendapat nilai setinggi itu. Bahkan nilaiku termasuk golongan nilai tinggi diantara teman-teman kantor. Tapi dengan nilai itu, aku belum bisa yakin kalau aku bisa lolos masuk SKB. Bisa dibilang nilaiku tanggung. Dikata nilai tengah ya tidak, tapi tidak sangat tinggi juga. Pasalnya SMA Negeri 1 Sokaraja hanya membuka 1 formasi guru ekonomi. Dimana untuk SKB berarti hanya akan diambil 3 nilai SKD tertinggi. Padahal jumlah total pendaftar 289, sedangkan yang hadir tes ada 243 orang.
Saat aku membuka pengumuman. Kucari namaku, dengan perasaan yang tidak kaget. Aku tidak lolos masuk SKB. Bahkan aku diperingkat 12 dari 243 orang. Not bad, hiburku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, aku sudah berjuang. Dibandingkan tahun 2018, hasil tes yang sekarang jaaaaauuuh lebih baik. Mungkin karena banyak orang yang mendoakanku. Mungkin doa diantara mereka yang dikabulkan sama Allah.
Setelah aku buka pengumuman, ku ceritakan pada ibuku. Ada nada kecewa. Jelas. Dari SD sampai masuk kuliah, ibaratnya aku tak pernah mengalami kegagalan.  Aku bebas memilih sekolah manapun dengan nilai yang selalu orang tuaku banggakan.
Hari H pengumuman, i am fine. Karena aku hanya menghadapi kekecewaan orang tua, yang aku anggap mereka memahamiku.
Keesokannya, pengumuman pemkab keluar. Banyak teman kantor yang lulus nilai SKB. Dosakah aku yang ada rasa iri ke mereka? Aku tak pernah menyalahkan mereka. Aku hanya iri, dengan nilai yang banyak sekali dibawahku. Mereka lolos. Semnetara aku, dengan nilai yang bisa dibilang membanggakan, aku gagal. Ada yang nilai 350an dia ranking 1, ada yang nilai 370an, ranking 2. Ada nilai 380an lolos. Hari itu aku kecewa. Aku benar-benar kecewa. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin lulus dengan nilaiku yang bisa dibilang lumayan ini.
Hari ini, aku dengar lagi kawanku yang lolos dengan selisih nilai 1 poin diatasku, aku ingin juga Ya Allah..
Sholat maghrib tiba, selesai sholat kupanjatkan doa. Hilangkan rasa iri ini, hilangkan rasa kecewa ini, buatlah aku tenang. Aku tidak mau kekecewaanku menjadikan aku jauh darimu Allah.
Selesai doa, aku membaca Al Quran. Entah kenapa, sakit ini justru meluap. Air mata tak bisa berhenti menetes, suara serak.membaca Al Quran karena menahan tangis. Ya aku menangisi kegagalan. Entah kenapa. Sakit sekali rasanya. Ingat nada kekecewaan ibu, ingat kepercayaan teman-temanku, ingat dikasih selamat sama temen yang tidak tau kalau aku gagal.
Ku mohon ya Allah, aku janji aku tidak akan pernah putus asa.  Selama ada kesempatan, aku akan mencoba lagi. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Restui aku Ya Allah. Lancarkan semua usahaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka yang menanti kesuksesanku.. Aamiin

Dua Kali Tes CPNS

Tulisan ini aku dedikasikan untuk diriku sendiri. Agar aku selalu ingat, perjuanganku ditahun ini. Agar aku ingat, apa saja yang aku lakukan. Ibadah apa yang aku lakukan, dengn hasil seperti ini. Bukan pamer, hanya mengabadikan sebuah ingatan perjuangan. Perjuangan menjadi seorang PNS.

Tahun 2020, tahun dimana banyak sekali target yang ingin kucapai. Salah satunya aku ingin jadi PNS. Aku kira aku bisa, tapi ternyata tak semudah itu.
Dua kali aku coba peruntungan di tes cpns. Dimulai dari penerimaan tahun 2018 dan ini yang kedua, penerimaan tahun 2019 yang tesnya dilaksanakan tahun 2020.
Di tes tahun 2018, aku gagal. Bahkan passing grade pun susah sekali dicapai, 2 mata ujian aku tak lulus. Kucoba lagi di penerimaan tahun 2019, tesnya tanggal 22 Februari 2020. Tes di Boyolali, tepatnya asrama haji Donohudan. Perjuangan tes ini aku mulai November 2019, dimana aku ikut les online cpns bersama dua temanku. Aku pikir ikhtiar lah, yang penting aku sudah berusaha. Selain les, aku belajar sendiri. Entah dari aplikasi maupun youtube. Setiap malam aku belajar. Ya, aku belajar dimalam hari. Mungkin kalau dikantor, aku terlihat tak pernah belajar karena memang aku hanya bisa fokus belajar kalau dirumah.
Mendekati hari H, rasanya maunya belajar terus. Merasa masih kurang disana-sini. Bahkan seringkali minder kalau lihat teman belajar. Seperti dia hafal diluar kepala, sementara aku, butir pancasila aja susahnya minta ampun.
Mendekati hari H, teman-teman bilang jangan belajar lagi. Tapi prinsipku berjuanglah selagi kau bisa, sampai titik darah penghabisan kalau bisa.
Di hari H, aku tes jam 14.30, jam 7 pagi aku sudah standby ditempat tes. Karena kalau aku tidak buru-buru kesana, mana bisa aku tenang. Sambil menunggu temanku yang tes sesi pertama, aku lakukan usaha-usaha yang aku bisa. Belajar dari youtube, doa, dan sholat.
Aku sengaja menunggu temanku tes dari masjid di asrama haji. Disitu aku maksimalkan mendekatkan diri pada Allah. Waktu Dhuha aku sholat Dhuha. Pas adzan Dhuhur, ikut sholat berjamaah. Sampai dengan sholat sunah. Aku pikir sekarang ngga ada yg bisa aku lakukan selain memohon dengan Sang Pembuat hidup.
Malam sebelum aku berangkat ke solo pun, aku sempatkan sholat tahajud dan sholat hajat. Tak lupa aku meminta dari bapak dan mama agar dilancarkan. Bahkan ke saudara-saudara sekeliling. Aku meminta doa mereka semua karena aku tak tau doaku akan dikabulkan atau tidak. Bisa jadi doa mereka lah yang dikabulkan.

Thursday, October 31, 2019

Entah....

Senyum itu bukan selalu pertanda dia bahagia. Kadang senyum hanya untuk menutupi keperihan.

Friday, May 12, 2017

Missing You All


Hampir 3 tahun menyandang gelar sarjana. Kata orang ini keren.Hampir 7 tahun yang lalu ku kejar impianku menjadi seorang sarjana. Ku tapaki jalan menuju sarjanaku lewat bangku kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kali ini yang ingin kuceritakan bukan mengenai perjuanganku atau mengenai bagaimana jalanku meniti langkah demi cita-cita menjadi seorang sarjana. Kali ini yang ingin kuceritakan adalah hari-hariku saat ku jalani hari demi hari menuju sarjana ini dan inilah kami:

Saat itu tahun 2010 dimana ku mulai hidup di Kota Solo. Sejak awal aku tidak sendiri walaupun aku beada dikota orang. Aku bersama mereka. Berawal dari teman-teman satu sekolah di SMA Negeri 1 Purbalingga. Anehnya selama di masa putih abu-abu kami ak pernah dekat. Beberapa dari kami memang pernah satu kelas. Tapi aku tak pernah membayangkan aku bisa sedekat ini bersama mereka, bersahabat dengan mereka. Kami 8 orang sahabat, kami memberi nama persahabatan kami dengan nama Keluarga Widodo. Berawal dari nama salah satu teman kami yang berakhiran dengan nama Widodo. Kami berdelapan bagaikan sebuah keluarga dimana disitu ada simbah Nia Nia Sukma, Papa kami Ilham Sapto Widodo (yang kami catut namanya untuk nama keluarga kami), bunda Dani Bimbim si istri pertama (konon dia katanya bukan ibu kandungku), mama Ve (dia ibu kandungku dalam cerita kami dan dia juga istri kedua dari papa), Tante Za, Om Mufti, dan Kakak Ninenk (Kakak Ninenk disini adalah Kakak Tiriku), dan aku sendiri adalah anak bungsu dari kami.
Lucunya aku sebagai anak bungsu kadang dianggap sebagai anak pungut dan kadang pula dianggap sebagai anak haram. Layaknya cerita sinetron. Yang tidak aku ketahui kalau aku anak  haram, lalu aku ini anak siapa? (haha, sudahlah ini hanya cerita kami yang kami karang sendiri dan tidak tahu siapa penulis skenarionya). Yang pasti aku bangga bisa bersama kalian (walaupun peranku anak haram, anak pungut, entahlah). Aku bangga dan aku rindu bersama kalian. Aku rindu kebersamaan kita. Kalian adalah sahabat yang tak mungkin aku lupakan sepanjang hidup dan kuharap kita akan bersahabat sampai akhir. Love You Guys

Friday, May 5, 2017

It's Time To Come Back

Tepat pada tanggal 25 September 2014 ku sandang gelar Sarjana Pendidikan. Ya, namaku kini tak sesingkat dulu. Kini namaku Fitriani, S.Pd. Ada tambahan 3 furuf dibelakang namaku. Dulu ingin sekali kuabaikan gelarku itu. Pasalnya memang bukan gelar itu yang kuinginkan disandingkan dengan manaku. Sempat rasa minder karena gelar ini menggelayuti.
Jalan hidupku pun ingin sekali ku ubah. Aku tak ingin bergantung dengan gelarku. Dengan predikat sebagai sarjana ku coba berkarir didunia industri seperti yang kuinginkan sejak dulu. Sempat ku tekuni karir sebagai accounting, lalu masuk ke dunia management trainee. Tetapi rasanya ada yang lain. Aku tak pernah puas dengan karir yang kumiliki. Mengapa disaat aku menjalankan karir sesuai dengan impianku sesuai dengan cita-citaku aku merasa selalu ada yang kurang.
Akhir-akhir ini mulai kupikirkan apakah aku harus kembali ke jalanku yang seharusnya. Sepertinya aku sudah cukup melawan takdir.

Thursday, March 7, 2013

First Post at 2013

Ya ampun ya ampuuun ternyata udah lama sekali aku ga berkunjung kesini.
Udah tahun 2013 aja ya? Perasaan kemaren baru pendaftaran mahasiswa baru. Udah berapa tahun tuh?
Tiba-tiba sekarang udah jadi mahasiswa semester 6. Tua banget rasanya. Udah jadi kakak buat adek-adek mahasiswa baru. Semester depan udah mulai PPL semester depannya harus udah skripsian. Setelah itu lulus, wisuda, kerja amiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn.

Sekarang juga udah mau 7 bulan jadi tante buat Naila. Hadeeeh semakin keliatan tua aja. Btw btw jadi kangen nih sama naila. Sebulan ga ketemu. Lagi apa ya dia sekarang? Jam segini lagi tidur kali yaa?
Emang tuh naila sukanya tiduuur mulu. Ga keitung deh berapa kali tidur siang seharinya. Maklum masih bayi, haha yang udah gede ngiri aja.

Liburan semester kemaren naila belum dikasih makan. Seharian cuma minum susu aja. Penasaran deh, kembung ga ya? Minuuum terus. Tiap nangis obatnya susu dan nangisnya ga tau berapa kali seharinya. Pantesan bayi sukanya ngompol minum terus sih. Tapi sekarang umurnya naila udah mau tujuh bulan. Pasti udah dikasih makan bubur deh. Penasaran apa porsi makannya sama kayak tetangga sebelah? haha. Kita tunggu saja. Akhir maret, pulaaaaaaaaaaaaaaaang :)

Tuesday, November 27, 2012

Memasak ituuuuu

Tulisan ini terinspirasi karena nasib nasi gorengku yang ... jangan ditanya hehe
Memasak itu harusnya keahlian semua wanita. Seharusnya sih. Tapi kan ga berarti semua wanita harus pandai masak-memasak.
Menurut Wikipedia "Memasak adalah kegiatan menyiapkan makanan untuk dimakan dengan cara memanaskan. Memasak terdiri dari berbagai macam metodeperalatan, dan kombinasi bumbu dapur untuk mengatur rasa memudahkan makanan untuk dicerna. Memasak secara umum adalah persiapan dan proses memilih, mengatur kuantitas, dan mencampur bahan makanan dengan urutan tertentu dengan tujuan untuk medapatkan hasil yang diinginkan. Memanaskan bahan makanan umumnya, walaupun tidak selalu, merubahan bahan makanan tersebut secara kimiawi, mengakibatkan adanya perubahan rasa, tekstur, penampilan, dan nilai nutrisi."
Ya ampuuun teorinya kok ribet banget yaa?? Gimana prakteknya??
Kalau menurut aku, praktek memasak itu jauuuh lebih sulit dibandingkan teorinya. ( ya iyaalah orang teori itu bisa dibaca dimana-mana). Kalau praktek? Prakteknya kita harus berusaha sendiri. Mengeluarkan segala daya dan upaya supaya hasil masakannya LEZAAAAT..
Siang ini aku nyoba buat masak. Di kos sih ga ada alat-alat buat masak-memasak. Hanya rice cooker mini ku yang selalu jadi alat percobaan. Niatnya aku mau buat nasi goreng. Dengan terbayang-bayang kata-kata si penjual panci ajaib bahwa panci yang dijual dia bisa untuk membuat nasi goreng langsung dari beras di panci. Caranya kayak orang masak nasi. Beras dikasih air trus dikasih bumbu. Tutup panci ajaibnya. Kira-kira udah matang bukalah tutupnya. Daaannn... taraaaaaaaaaaaaa... nasi goreng produk panci ajaib siap disajikan. Aku sih belum pernah praktek kayak gitu pake panci ajaib dirumah. Karena aku pengennya prakteknya emang di kos pake rice cooker.
Siang ini aku nyoba. Saat adzan Dhuhur berkumandang *saat makan siang*
Siap-siap aku memasak. Beras aku tuang ke panci rice cooker. Aku cuci. Aku kasih air. Trus aku masukin ke rice cooker aku tancep ke listrik. Ku tunggu dan ku tunggu.
setengah matang, aku buka tutup rice cookernya. Aku masukin bumbu instan nasi gorengnya. Aku pakein kecap sekalian. Trus aku tutup lagi nunggu lampu indikator kembali ke warm.
Jeglek...Lampu indikator telah kembali ke warm. Aku cium tuh nasi goreng buatanku. Kayaknya enak nih... Biasanya aku buat ga ada rasanya. Kali ini aku tambah bumbu lagi biar enak. Air juga aku tambah biar nasinya enak.
Trus aku ambil piring. Aku ambil banyak nasi gorengnya.
Suapan pertama.... mungkin lidah butuh pemanasan
Suapan kedua, dst
Kok rasanya ga berubah?? Nasinya keras.. rasanya ga karuan. Iyuuuuuuuuh
Untung aku ga muntah haha
Aku tambahin lagi deh bumbunya
aku tambahin menteganya. Rasanya???
Sama tetep aja.
Apa yang salah???
mana ku tahu...
Putus asa ngliat nasi goreng sebanyak itu... aku ambil plastik deh. Aku tuang ke plastik semua nasi goreng sepanci rice cooker. Trus??? Dadaaah bye bye
Brakkk!!! Masuk tempat sampah. Salah siapa rasanya ga enak :P

Sakit Tak Berdarah

Ini kelanjutan postingan sebelumnya. Maaf kalau spam. Hanya ingin cerita saja... Hari minggu kemarin, ditengah wabah Corona, BKN tetap meng...