Hari minggu kemarin, ditengah wabah Corona, BKN tetap mengumumkan hasil tes SKD CPNS. Aku dapat edaran pengumuman pagi, jam setengah enam. Dasar anak gadis, jam segitu baru bangun. Aku sempatkan sholat subuh dulu. Setelah sholat aku pasrah saja pada Allah, kalau memang ini rejekiku, maka aku pun akan dinyatakan lolos. Tapi kalau belum rejeki, ya sudah ikhlas saja. Mau bagaimana lagi? Namanya belum rejeki.
Sedikit flashback, jadi hasil tes skd.ku lumayan bagus. Aku mendapat nilai 384 dengan rincian tes wawasan kebangsaan 105 poin, tes intelegensi umum 135, dan tes kemampuan pribadi 144 poin atau dengan total poin 384. Nilai yang cukup tinggi. Aku sendiri tidak menyangka bisa mendapat nilai setinggi itu. Bahkan nilaiku termasuk golongan nilai tinggi diantara teman-teman kantor. Tapi dengan nilai itu, aku belum bisa yakin kalau aku bisa lolos masuk SKB. Bisa dibilang nilaiku tanggung. Dikata nilai tengah ya tidak, tapi tidak sangat tinggi juga. Pasalnya SMA Negeri 1 Sokaraja hanya membuka 1 formasi guru ekonomi. Dimana untuk SKB berarti hanya akan diambil 3 nilai SKD tertinggi. Padahal jumlah total pendaftar 289, sedangkan yang hadir tes ada 243 orang.
Saat aku membuka pengumuman. Kucari namaku, dengan perasaan yang tidak kaget. Aku tidak lolos masuk SKB. Bahkan aku diperingkat 12 dari 243 orang. Not bad, hiburku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, aku sudah berjuang. Dibandingkan tahun 2018, hasil tes yang sekarang jaaaaauuuh lebih baik. Mungkin karena banyak orang yang mendoakanku. Mungkin doa diantara mereka yang dikabulkan sama Allah.
Setelah aku buka pengumuman, ku ceritakan pada ibuku. Ada nada kecewa. Jelas. Dari SD sampai masuk kuliah, ibaratnya aku tak pernah mengalami kegagalan. Aku bebas memilih sekolah manapun dengan nilai yang selalu orang tuaku banggakan.
Hari H pengumuman, i am fine. Karena aku hanya menghadapi kekecewaan orang tua, yang aku anggap mereka memahamiku.
Keesokannya, pengumuman pemkab keluar. Banyak teman kantor yang lulus nilai SKB. Dosakah aku yang ada rasa iri ke mereka? Aku tak pernah menyalahkan mereka. Aku hanya iri, dengan nilai yang banyak sekali dibawahku. Mereka lolos. Semnetara aku, dengan nilai yang bisa dibilang membanggakan, aku gagal. Ada yang nilai 350an dia ranking 1, ada yang nilai 370an, ranking 2. Ada nilai 380an lolos. Hari itu aku kecewa. Aku benar-benar kecewa. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin lulus dengan nilaiku yang bisa dibilang lumayan ini.
Hari ini, aku dengar lagi kawanku yang lolos dengan selisih nilai 1 poin diatasku, aku ingin juga Ya Allah..
Sholat maghrib tiba, selesai sholat kupanjatkan doa. Hilangkan rasa iri ini, hilangkan rasa kecewa ini, buatlah aku tenang. Aku tidak mau kekecewaanku menjadikan aku jauh darimu Allah.
Selesai doa, aku membaca Al Quran. Entah kenapa, sakit ini justru meluap. Air mata tak bisa berhenti menetes, suara serak.membaca Al Quran karena menahan tangis. Ya aku menangisi kegagalan. Entah kenapa. Sakit sekali rasanya. Ingat nada kekecewaan ibu, ingat kepercayaan teman-temanku, ingat dikasih selamat sama temen yang tidak tau kalau aku gagal.
Ku mohon ya Allah, aku janji aku tidak akan pernah putus asa. Selama ada kesempatan, aku akan mencoba lagi. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Restui aku Ya Allah. Lancarkan semua usahaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka yang menanti kesuksesanku.. Aamiin

